Bercinta di Pantai

Dia membungkuk ke arah yang tidak dikenal manusia,
Setiap sudut antara sembilan puluh dan tiga ratus enam puluh derajat,
Pinggul, paha, dan dada Nya

Yang dia pinta hanyalah mataku untuk memandangnya,
Tanganku untuk membelai kulitnya,
Pikiranku untuk mengenali apa yang akan terjadi selanjutnya,

Kita berjalan bertelanjang kaki melalui kering dedaunan,
Melewati kesusahan dan kebahagiaan,
Ketika kekacauan melanda,

Dia meletakkan kepalaku di dadanya,
Sehingga aku bisa mendengar detak jantungnya,
Rambut hitam panjangnya menyembunyikan warna salju kulitku,

Berbisik-bisik di telingaku,
Bertanya apakah aku telah bersedia,
Kita duduk di bawah pohon kelapa,

Ketika kehausan aku meminum air kelapa melewati belahan dadanya,
Minum hingga dahaga kita hilang,
Dia tak mengenakan apa-apa selain selimut,

Tangan saya terikat ke belakang di pohon kelapa,
Merobek bajuku,
Mencium dadaku mulai dari leherku,

Saat matahari terbenam,
Kulitnya bersinar,
Keringat menetes dari lehernya,

Kakinya membalut pinggangku,
Menatap mata satu sama lain,
Menjilati bibirnya,

Memulai untuk bergoyang,
Seperti rasa akan meledak,
Dia mulai bergoyang kedepan dan kebelakang dengan antusias,

Menggigit leherku,
Kedua mata kita bergulir,
Tubuh kita bergetar ketika matahari menghilang di balik horizon,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s